Kamis, 22 Oktober 2015
Rabu, 21 Oktober 2015
Tugas Teori Antropologi
Nama : Dessy Wulandari
NIM : 3401414059
Rombel : 2
LINGKUNGANKU
AGAMAKU
Agama atau keyakinan
adalah hal yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang. Sebuah pedoman
hidup serta identitas yang meskipun wujudnya tak nampak namun selalu melekat
dalam diri individu. Agama bisa dikatakan sebagai mesin penggerak seseorang
dalam berperilaku. Aturan, adat dan hukum dalam agama mengikat atau mengatur
tingkah laku manusia, sehingga kehidupan yang dijalani tak semena-semena
seperti apa yang manusia itu kehendaki. Agama tak pernah lepas dari pembahasan
mengenai dosa dan pahala, surga dan neraka serta hubungan manusia dengan Sang
Pencipta. Kitab suci menjadi salah satu wujud bahwa agama dan segala yang
berhubungan dengan hal itu adalah ada. Namun hanya keimanan seseorang yang akan
membuat dirinya percaya akan hal tersebut.
Keragaman agama yang ada
di masyarakat secara tidak langsung membuat batasan antar umat beragama. Meskipun
sikap toleransi dan saling menghargai tak jarang ditemukan, namun konflik antar
umat juga tak ayal masih kita jumpai. Hal tersebut menandakan bahwa perbedaan
agama masih menjadi sebuah faktor adanya pembedaan seseorang dalam kehidupan
bermasyarakat. Dominasi agama tertentu juga masih bisa dirasakan di kehidupan
sekarang ini. Tulisan ini akan
mendeskripsikan tentang bagaimana seseorang mengganti keyakinan atau agamanya,
hal yang mempengaruhi dirinya dalam berpindah keyakinan serta bagaimana ia
tumbuh dalam keluarga yang memiliki agama yang berbeda.
Alih
Keyakinan
Eva
Dwi Kristiani (Eva), anak kedua dari pasangan Ruslan dan Kristianingsih ini
lahir pada tanggal 14 Februari 1996. Dulu
ayahnya memeluk agama Islam sebelum bertemu dan memutuskan untuk menikah dengan
Ibunya yang beragama Kristen. Perdebatan keluarga besar dari ayahnya tak
terelakkan, akan tetapi ayahnya tetap bersikukuh untuk mengganti agamanya demi
untuk meminang ibunya. Namun setelah menikah di Gereja ayahnya belum pernah lagi
menginjakkan kakinya ke Gereja untuk sembahyang. Meskipun statusnya beragama
Kristen namun ia tak pernah menjalankan ajaran agamanya. Bahkan ia masih sering
mengikuti selamaten yang digelar oleh
orang-orang Islam di kampungnya dan juga ikut membaca doa-doa yang dipanjatkan
disitu. Eva dan kakak perempuannya dibesarkan dengan agama Kristen. Namun ayah
dan ibunya tak membatasi dan melarang ketika keduanya kelak berpindah
keyakinan. Hingga pada suatu saat Eva benar-benar berpindah agama karena ia
merasa lebih nyaman ketika ia berada diantara orang-orang Islam, ia merasa
lebih tenang ketika menjalankan ajaran Islam dan merasa bangga menyebut dirinya
Islam. Ayah dan Ibunya tak melarang akan keputusan anaknya namun kakaknya
sempat tidak setuju dengan keputusan saudaranya itu. Dan keputusannya untuk
berpindah agama itu mendapat respon positif dari saudara ayahnya, bahkan ketika
mendengar hal itu salah seorang dari saudara ayahnya yang kebetulan masih satu
kampung datang ke rumah Eva dan memberikan mukena dan Al-Qur’an kepada
keponakannya itu. Ia juga mengantarkan Eva bertemu dengan Kyai di Masjid untuk
menuntun keponakannya itu membaca dua kalimat syahadat sebagai syarat seseorang
masuk ke agama Islam.
Temanku,Tetanggaku,Pacarku
beragama Islam
Eva terlahir di lingkungan dimana mayoritas beragama
Islam. Ia sekolah di SD,SMP dan SMA yang siswanya mayoritas juga beragama
Islam. Ia belajar mengenai Islam, belajar membaca Al-Qur’an, bahkan ketika
ujian sekolah ia juga mengikuti ujian praktek sholat di sekolahnya. Ketika
penjurusan agama di sekolah menengah ia memilih agama Islam untuk mata
pelajaran yang diambilnya bukan agama Kristen karena dari kecil ia belajar
mengenai Islam dan merasa ia lebih mengerti agama Islam daripada agamanya
sendiri. Perasaan heran tak luput dari mata guru dan teman-temannya. Ia juga
merasa lebih nyaman ketika berteman dengan orang-orang yang beragama Islam
bahkan ia juga banyak belajar mengenai Islam dari teman-temannya.
Eva
tinggal di kampung yang juga warganya banyak beragama Islam. Ia tinggal di
kampung Krapyak salah satu kampung di kota Demak, kota yang dikenal atau sering
disebut dengan kota Wali. Saat kecil ketika ia belum mengerti tentang ‘agama’
itu sendiri ia seringkali mengikuti temannya untuk ikut Maulid Nabi di Masjid
untuk sekedar mencari jajan-jajan yang di bawa oleh warga di sana. Ketika puasa
dimana anak-anak di kampungnya bersemangat pergi ke masjid untuk sholat tarawih
ia juga mengikuti temannya dan meminjam mukena milik temannya. Namun ketika
hari Minggu ia juga diajak oleh ibunya dan kakak perempuannya untuk kebaktian
di Gereja. Karena saat itu ia belum mengerti ia ikut bernyanyi dan mengikuti
prosesi yang dilakukan di gereja.
Menginjak remaja,
sewajarnya anak perempuan tertarik dengan laki-laki Eva juga mengalami hal
tersebut. Apalagi Eva termasuk wanita yang memiliki paras yang cantik, banyak
sekali laki-laki yang ingin mendekatinya. Hingga saat itu ketika ia duduk di
bangku kelas sepuluh seorang laki-laki bernama Burhan mendekatinya dan iapun
merasa nyaman dengan kehadiran laki-laki itu. Burhan adalah sosok laki-laki
yang religius. Ia dibesarkan di keluarga yang kental sekali akan ajaran agama
Islam. Ketika ia memutuskan berpacaran dengan Eva yang saat itu masih beragama
Kristen ia menutupi hubungannya dari keluarganya karena ia tahu hal tersebut
akan berakibat fatal bagi dirinya dan hubungannya dengan Eva. Hingga pada
akhirnya, karena mereka merasa hubungan mereka mulai menandakan keseriusan dan
tidak ingin hubungan mereka disembunyikan, Eva yang saat itu sudah duduk di
bangku kelas dua belas dan sedikit banyak telah mengetahui tentang Islam dan
setelah banyak pertimbangan ia memutuskan untuk berpindah agama ke Islam. Dan
ketika keluarga dari Burhan mengetahui bahwa kekasih anaknya seorang Mualaf,
mereka merespon positif terhadap hubungan mereka bahkan seringkali mengajari
Eva mengaji dan mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan Islam.
Kita
Hidup Berdampingan
Setelah
Eva memutuskan beralih kayakinan suasana rumah mulai berubah. Di ruang tamu
rumahnya yang semula hanya terdapat salip dan patung kecil Yesus, kini lukisan
kaligrafi bertuliskan Allah dan Muhammad juga menempel di dinding ruang
tamunya. Ketika lebaran Idul Fitri ibunya juga menyiapkan makanan-makanan,
membelikan anaknya baju baru dan saat puasa ia juga menyiapkan ta’jil untuk
berbuka puasa. Kakaknya yang dulu sempat tidak setuju dengan keputusan adiknya
itu lama-kelamaan menerima keputusan dari adiknya karena ia sadar bahwa
keyakinan seseorang tak dapat dipaksakan. Bahkan sekarang ini ketika adiknya
lupa menjalankan sholat, ia tak segan memarahinya. Begitupun saat natal, Eva
juga membantu ibunya menyiapkan makanan untuk saudara-saudara Ibunya yang
datang untuk berkunjung. Ia juga membantu kakaknya menghiasi pohon natal kecil
di sudut ruang tamu miliknya. Mereka saling menghargai di rumah. Tak jarang
orang-orang yang bersilaturahmi ke rumahnya menanyakan akan pajangan di ruang tamu
rumahnya. Terkadang ibunya merasa canggung untuk menjelaskannya.
Fenomena
di atas melihatkan bahwa agama atau keyakinan seseorang juga dipengaruhi oleh
lingkungan. Agama bawaan dari keluarga memang
kuat, namun lingkungan juga memegang peranan penting dalam diri individu untuk
mengerti dan memahami agamanya. Kejadian semacam di atas memang jarang sekali
ditemui, karena banyak sekali keluarga yang mengikat anggota keluarganya
khususnya dalam hal keyakinan. Suatu keberuntungan bagi Eva yang dapat memilih
agamanya sendiri tanpa adanya tekanan dari keluarganya.
Eva
lahir dari keluarga yang beragama Kristen, meski ayahnya dahulu beragama Islam
dan kurang begitu taat ketika beralih ke agama Kristen. Eva tumbuh di
lingkungan dimana mayoritas beragama Islam. Selayaknya makhluk sosial ia juga
berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Secara tak sadar ia juga
mengikuti ritme keyakinan di lingkungan sekitar ia tinggal hingga lupa
mendalami agama yang dibawanya sejak lahir. Kedua orangtuanya tak melarang anaknya
itu belajar mengenai agama lain, mereka membebaskan anaknya dalam hal
menentukan keyakinan. Hingga akhirnya Eva beralih keyakinan ke agama Islam.
Respon positif dari teman, guru, tetangga diberikan padanya atas keberanian
mengambil keputusan tersebut. Keluarganyapun tidak begitu mempermasalahkan
ketika anggota keluarganya itu mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Bahkan
mereka yang hidup seatap dengan keyakinan yang berbeda itu saling menghargai
dan saling mengingatkan.
Langganan:
Postingan (Atom)
Followers
Games
Follow The Author
Designed By Templateism | Seo Blogger Templates