Rabu, 21 Oktober 2015

Tugas Teori Antropologi



Nama              : Dessy Wulandari
NIM                 : 3401414059
Rombel           : 2
LINGKUNGANKU AGAMAKU
Agama atau keyakinan adalah hal yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang. Sebuah pedoman hidup serta identitas yang meskipun wujudnya tak nampak namun selalu melekat dalam diri individu. Agama bisa dikatakan sebagai mesin penggerak seseorang dalam berperilaku. Aturan, adat dan hukum dalam agama mengikat atau mengatur tingkah laku manusia, sehingga kehidupan yang dijalani tak semena-semena seperti apa yang manusia itu kehendaki. Agama tak pernah lepas dari pembahasan mengenai dosa dan pahala, surga dan neraka serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Kitab suci menjadi salah satu wujud bahwa agama dan segala yang berhubungan dengan hal itu adalah ada. Namun hanya keimanan seseorang yang akan membuat dirinya percaya akan hal tersebut.
Keragaman agama yang ada di masyarakat secara tidak langsung membuat batasan antar umat beragama. Meskipun sikap toleransi dan saling menghargai tak jarang ditemukan, namun konflik antar umat juga tak ayal masih kita jumpai. Hal tersebut menandakan bahwa perbedaan agama masih menjadi sebuah faktor adanya pembedaan seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Dominasi agama tertentu juga masih bisa dirasakan di kehidupan sekarang ini.  Tulisan ini akan mendeskripsikan tentang bagaimana seseorang mengganti keyakinan atau agamanya, hal yang mempengaruhi dirinya dalam berpindah keyakinan serta bagaimana ia tumbuh dalam keluarga yang memiliki agama yang berbeda.  
Alih Keyakinan
            Eva Dwi Kristiani (Eva), anak kedua dari pasangan Ruslan dan Kristianingsih ini lahir pada tanggal 14 Februari 1996.  Dulu ayahnya memeluk agama Islam sebelum bertemu dan memutuskan untuk menikah dengan Ibunya yang beragama Kristen.    Perdebatan keluarga besar dari ayahnya tak terelakkan, akan tetapi ayahnya tetap bersikukuh untuk mengganti agamanya demi untuk meminang ibunya. Namun setelah menikah di Gereja ayahnya belum pernah lagi menginjakkan kakinya ke Gereja untuk sembahyang. Meskipun statusnya beragama Kristen namun ia tak pernah menjalankan ajaran agamanya. Bahkan ia masih sering mengikuti selamaten yang digelar oleh orang-orang Islam di kampungnya dan juga ikut membaca doa-doa yang dipanjatkan disitu. Eva dan kakak perempuannya dibesarkan dengan agama Kristen. Namun ayah dan ibunya tak membatasi dan melarang ketika keduanya kelak berpindah keyakinan. Hingga pada suatu saat Eva benar-benar berpindah agama karena ia merasa lebih nyaman ketika ia berada diantara orang-orang Islam, ia merasa lebih tenang ketika menjalankan ajaran Islam dan merasa bangga menyebut dirinya Islam. Ayah dan Ibunya tak melarang akan keputusan anaknya namun kakaknya sempat tidak setuju dengan keputusan saudaranya itu. Dan keputusannya untuk berpindah agama itu mendapat respon positif dari saudara ayahnya, bahkan ketika mendengar hal itu salah seorang dari saudara ayahnya yang kebetulan masih satu kampung datang ke rumah Eva dan memberikan mukena dan Al-Qur’an kepada keponakannya itu. Ia juga mengantarkan Eva bertemu dengan Kyai di Masjid untuk menuntun keponakannya itu membaca dua kalimat syahadat sebagai syarat seseorang masuk ke agama Islam.
Temanku,Tetanggaku,Pacarku beragama Islam
            Eva terlahir di lingkungan dimana mayoritas beragama Islam. Ia sekolah di SD,SMP dan SMA yang siswanya mayoritas juga beragama Islam. Ia belajar mengenai Islam, belajar membaca Al-Qur’an, bahkan ketika ujian sekolah ia juga mengikuti ujian praktek sholat di sekolahnya. Ketika penjurusan agama di sekolah menengah ia memilih agama Islam untuk mata pelajaran yang diambilnya bukan agama Kristen karena dari kecil ia belajar mengenai Islam dan merasa ia lebih mengerti agama Islam daripada agamanya sendiri. Perasaan heran tak luput dari mata guru dan teman-temannya. Ia juga merasa lebih nyaman ketika berteman dengan orang-orang yang beragama Islam bahkan ia juga banyak belajar mengenai Islam dari teman-temannya.
  Eva tinggal di kampung yang juga warganya banyak beragama Islam. Ia tinggal di kampung Krapyak salah satu kampung di kota Demak, kota yang dikenal atau sering disebut dengan kota Wali. Saat kecil ketika ia belum mengerti tentang ‘agama’ itu sendiri ia seringkali mengikuti temannya untuk ikut Maulid Nabi di Masjid untuk sekedar mencari jajan-jajan yang di bawa oleh warga di sana. Ketika puasa dimana anak-anak di kampungnya bersemangat pergi ke masjid untuk sholat tarawih ia juga mengikuti temannya dan meminjam mukena milik temannya. Namun ketika hari Minggu ia juga diajak oleh ibunya dan kakak perempuannya untuk kebaktian di Gereja. Karena saat itu ia belum mengerti ia ikut bernyanyi dan mengikuti prosesi yang dilakukan di gereja.
Menginjak remaja, sewajarnya anak perempuan tertarik dengan laki-laki Eva juga mengalami hal tersebut. Apalagi Eva termasuk wanita yang memiliki paras yang cantik, banyak sekali laki-laki yang ingin mendekatinya. Hingga saat itu ketika ia duduk di bangku kelas sepuluh seorang laki-laki bernama Burhan mendekatinya dan iapun merasa nyaman dengan kehadiran laki-laki itu. Burhan adalah sosok laki-laki yang religius. Ia dibesarkan di keluarga yang kental sekali akan ajaran agama Islam. Ketika ia memutuskan berpacaran dengan Eva yang saat itu masih beragama Kristen ia menutupi hubungannya dari keluarganya karena ia tahu hal tersebut akan berakibat fatal bagi dirinya dan hubungannya dengan Eva. Hingga pada akhirnya, karena mereka merasa hubungan mereka mulai menandakan keseriusan dan tidak ingin hubungan mereka disembunyikan, Eva yang saat itu sudah duduk di bangku kelas dua belas dan sedikit banyak telah mengetahui tentang Islam dan setelah banyak pertimbangan ia memutuskan untuk berpindah agama ke Islam. Dan ketika keluarga dari Burhan mengetahui bahwa kekasih anaknya seorang Mualaf, mereka merespon positif terhadap hubungan mereka bahkan seringkali mengajari Eva mengaji dan mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan Islam.
Kita Hidup Berdampingan
            Setelah Eva memutuskan beralih kayakinan suasana rumah mulai berubah. Di ruang tamu rumahnya yang semula hanya terdapat salip dan patung kecil Yesus, kini lukisan kaligrafi bertuliskan Allah dan Muhammad juga menempel di dinding ruang tamunya. Ketika lebaran Idul Fitri ibunya juga menyiapkan makanan-makanan, membelikan anaknya baju baru dan saat puasa ia juga menyiapkan ta’jil untuk berbuka puasa. Kakaknya yang dulu sempat tidak setuju dengan keputusan adiknya itu lama-kelamaan menerima keputusan dari adiknya karena ia sadar bahwa keyakinan seseorang tak dapat dipaksakan. Bahkan sekarang ini ketika adiknya lupa menjalankan sholat, ia tak segan memarahinya. Begitupun saat natal, Eva juga membantu ibunya menyiapkan makanan untuk saudara-saudara Ibunya yang datang untuk berkunjung. Ia juga membantu kakaknya menghiasi pohon natal kecil di sudut ruang tamu miliknya. Mereka saling menghargai di rumah. Tak jarang orang-orang yang bersilaturahmi ke rumahnya menanyakan akan pajangan di ruang tamu rumahnya. Terkadang ibunya merasa canggung untuk menjelaskannya.
            Fenomena di atas melihatkan bahwa agama atau keyakinan seseorang juga dipengaruhi oleh lingkungan. Agama bawaan dari  keluarga memang kuat, namun lingkungan juga memegang peranan penting dalam diri individu untuk mengerti dan memahami agamanya. Kejadian semacam di atas memang jarang sekali ditemui, karena banyak sekali keluarga yang mengikat anggota keluarganya khususnya dalam hal keyakinan. Suatu keberuntungan bagi Eva yang dapat memilih agamanya sendiri tanpa adanya tekanan dari keluarganya.
            Eva lahir dari keluarga yang beragama Kristen, meski ayahnya dahulu beragama Islam dan kurang begitu taat ketika beralih ke agama Kristen. Eva tumbuh di lingkungan dimana mayoritas beragama Islam. Selayaknya makhluk sosial ia juga berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Secara tak sadar ia juga mengikuti ritme keyakinan di lingkungan sekitar ia tinggal hingga lupa mendalami agama yang dibawanya sejak lahir. Kedua orangtuanya tak melarang anaknya itu belajar mengenai agama lain, mereka membebaskan anaknya dalam hal menentukan keyakinan. Hingga akhirnya Eva beralih keyakinan ke agama Islam. Respon positif dari teman, guru, tetangga diberikan padanya atas keberanian mengambil keputusan tersebut. Keluarganyapun tidak begitu mempermasalahkan ketika anggota keluarganya itu mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Bahkan mereka yang hidup seatap dengan keyakinan yang berbeda itu saling menghargai dan saling mengingatkan.
Continue Reading...

Followers

Games

Follow The Author