Nama : Dessy Wulandari
NIM
: 3401414059
Rombel : 2
Lambaian
Tangan Si Anak Pejuang
Siang
itu Rabu, 5 April sekitar pukul 12:30 matahari seperti tepat di atas kepala.
Tidak seperti Rabu biasanya, pada hari itu di jam tersebut saya baru keluar dari
rumah untuk pergi ke kampus karena kebetulan jadwal mata kuliah pagi itu kosong.
Kampus saya berada di Universitas Negeri Semarang (UNNES) dan saya tinggal di
Menoreh Barat Sampangan. Dari rumah menuju ke kampus setiap harinya saya
melewati sebuah jalan yang dinamakan Jl. Dewi Sartika. Namun berbeda dengan
rabu-rabu sebelumnya ada hal yang menarik saya temukan ketika melewati jalan
tersebut. Ada tiga anak SD, dua laki-laki dan satu perempuan di pinggir jalan. Kemungkinan
mereka duduk di kelas tiga atau empat SD. Mereka bertiga melambaikan tangan
pada para pengendara motor untuk meminta tumpangan. Mereka terlihat lesu ketika
melambaikan tangannya pada para pengendara motor. Karena cuaca saat itu memang sangat
panas dan kemungkinan mereka sudah lapar karena sudah waktunya makan siang.
Seorang dari mereka bahkan memilih duduk di bawah pohon untuk berteduh dari
terik sinar matahari. Kemudian saya berhenti untuk mengantar salah satu dari
mereka ke rumahnya. Karena si anak perempuan menghampiri ketika saya mengehentikan
motor maka dialah yang kemudian saya antarkan ke rumahnya. Dan dua anak lainnya
sebelum saya menghidupkan motor mereka juga telah mendapatkan tumpangan.
Dalam
perjalanan saya bertanya pada anak perempuan tadi “ rumahnya mana dek?”.
Kemudian dia menjawab dengan suara lirih “di bengkel mbak”. Kemudian kutimpali
“nanti kalau mau sampai bilang ya”. Tidak lama setelah itu saya melihat
terdapat bengkel di pinggir jalan dan anak perempuan tadi menepuk punggung saya
tanda ingin diberhentikan di sana. Setelah itu anak tersebut mengucapkan ucapan
terimakasih dengan dibumbui dengan senyum polosnya. Di bengkel tersebut saya
melihat seorang bapak yang usianya sudah terbilang tua sedang mereparasi mobil.
Melihat saya mengantarkan anak perempuan tadi dia melemparkan senyum pada saya.
Meski tak mengucapkan satu patah katapun, namun senyuman bapak tersebut cukup
membuat perasaan saya damai. Di seberang bengkel tersebut saya melihat seorang
mahasiswa yang juga menurunkan dua anak kecil laki-laki dari motornya. Dia memberhentikan
motornya tepat di depan gapura gang Deliksari.
Dalam
perjalanan setelah mengantar anak tadi muncul rasa penasaran saya. Pertanyaan
demi pertanyaan muncul dalam pikiran saya. “Siapa yang menyuruh mereka
melambaikan tangan di pinggir jalan untuk meminta tumpangan? Apa orang tua
mereka tidak memberikan ongkos untuk naik angkutan umum? Apa orang tua mereka
terlalu sibuk sehingga tidak sempat menjemput mereka di sekolah? Apakah orang
tua mereka tidak takut dengan kasus penculikan dan pedofilia yang sekarang ini
sedang beredar di masyarakat? ”. Bahkan pikiran saya berfikir terlalu jauh
yaitu bagaimana jika ada seorang pedofilia yang mengincar salah satu diantara
mereka dan modusnya dengan mengantarkan pulang anak tersebut setiap hari
kemudian melakukan tindakan asusila terhadap mereka. Apakah orang tua mereka
tidak pernah berpikir sejauh itu sehingga mereka membiarkan anaknya meminta
tumpangan pada sembarang orang. Tetapi memang kasihan jika melihat anaknya
berjalan kaki dari sekolah menuju ke rumah karena jalannya yang menanjak dan
jarak yang lumayan jauh. Apakah tidak ada jalan keluar lain selain membiarkan
anak-anak tersebut berjalan kaki atau menumpang orang tak di kenal? Lalu
bagaimana peran sekolah melihat hal ini? Apakah hanya diam saja? Pertanyaan
yang rasanya ingin secepatnya saya gali untuk turut mencari jalan keluar bagi
anak-anak pejuang bangsa ini.
Semangat
anak-anak ke sekolah perlu diacungi jempol. Dengan jarak yang cukup jauh dan
struktur jalan yang menanjak tidak menghalangi mereka untuk ke sekolah. orang
tua, pihak sekolah dan pemerintah kota Semarang seharusnya mengapresiasi
semangat anak-anak ini. Jangan biarkan niat baik mereka direnggut oleh niat
jahat orang-orang tak bertanggung jawab. Dari kejadian ini saya teringat dengan
pepatah Jawa yakni “Jer Basuki Mawa Beya” yang berarti setiap keberhasilan
memerlukan pengorbanan atau biaya. Bagaimana anak Indonesia dapat memenuhi
tujuan pendidikan negara jika pihak-pihak terkait enggan berkorban?