Selasa, 13 Juni 2017

Penulisan Karya Ilmiah Populer "Lambaian Tangan Si Anak Pejuang"

Nama               : Dessy Wulandari
NIM                : 3401414059
Rombel            : 2

Lambaian Tangan Si Anak Pejuang

Siang itu Rabu, 5 April sekitar pukul 12:30 matahari seperti tepat di atas kepala. Tidak seperti Rabu biasanya, pada hari itu di jam tersebut saya baru keluar dari rumah untuk pergi ke kampus karena kebetulan jadwal mata kuliah pagi itu kosong. Kampus saya berada di Universitas Negeri Semarang (UNNES) dan saya tinggal di Menoreh Barat Sampangan. Dari rumah menuju ke kampus setiap harinya saya melewati sebuah jalan yang dinamakan Jl. Dewi Sartika. Namun berbeda dengan rabu-rabu sebelumnya ada hal yang menarik saya temukan ketika melewati jalan tersebut. Ada tiga anak SD, dua laki-laki dan satu perempuan di pinggir jalan. Kemungkinan mereka duduk di kelas tiga atau empat SD. Mereka bertiga melambaikan tangan pada para pengendara motor untuk meminta tumpangan. Mereka terlihat lesu ketika melambaikan tangannya pada para pengendara motor. Karena cuaca saat itu memang sangat panas dan kemungkinan mereka sudah lapar karena sudah waktunya makan siang. Seorang dari mereka bahkan memilih duduk di bawah pohon untuk berteduh dari terik sinar matahari. Kemudian saya berhenti untuk mengantar salah satu dari mereka ke rumahnya. Karena si anak perempuan menghampiri ketika saya mengehentikan motor maka dialah yang kemudian saya antarkan ke rumahnya. Dan dua anak lainnya sebelum saya menghidupkan motor mereka juga telah mendapatkan tumpangan.
Dalam perjalanan saya bertanya pada anak perempuan tadi “ rumahnya mana dek?”. Kemudian dia menjawab dengan suara lirih “di bengkel mbak”. Kemudian kutimpali “nanti kalau mau sampai bilang ya”. Tidak lama setelah itu saya melihat terdapat bengkel di pinggir jalan dan anak perempuan tadi menepuk punggung saya tanda ingin diberhentikan di sana. Setelah itu anak tersebut mengucapkan ucapan terimakasih dengan dibumbui dengan senyum polosnya. Di bengkel tersebut saya melihat seorang bapak yang usianya sudah terbilang tua sedang mereparasi mobil. Melihat saya mengantarkan anak perempuan tadi dia melemparkan senyum pada saya. Meski tak mengucapkan satu patah katapun, namun senyuman bapak tersebut cukup membuat perasaan saya damai. Di seberang bengkel tersebut saya melihat seorang mahasiswa yang juga menurunkan dua anak kecil laki-laki dari motornya. Dia memberhentikan motornya tepat di depan gapura gang Deliksari.
Dalam perjalanan setelah mengantar anak tadi muncul rasa penasaran saya. Pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam pikiran saya. “Siapa yang menyuruh mereka melambaikan tangan di pinggir jalan untuk meminta tumpangan? Apa orang tua mereka tidak memberikan ongkos untuk naik angkutan umum? Apa orang tua mereka terlalu sibuk sehingga tidak sempat menjemput mereka di sekolah? Apakah orang tua mereka tidak takut dengan kasus penculikan dan pedofilia yang sekarang ini sedang beredar di masyarakat? ”. Bahkan pikiran saya berfikir terlalu jauh yaitu bagaimana jika ada seorang pedofilia yang mengincar salah satu diantara mereka dan modusnya dengan mengantarkan pulang anak tersebut setiap hari kemudian melakukan tindakan asusila terhadap mereka. Apakah orang tua mereka tidak pernah berpikir sejauh itu sehingga mereka membiarkan anaknya meminta tumpangan pada sembarang orang. Tetapi memang kasihan jika melihat anaknya berjalan kaki dari sekolah menuju ke rumah karena jalannya yang menanjak dan jarak yang lumayan jauh. Apakah tidak ada jalan keluar lain selain membiarkan anak-anak tersebut berjalan kaki atau menumpang orang tak di kenal? Lalu bagaimana peran sekolah melihat hal ini? Apakah hanya diam saja? Pertanyaan yang rasanya ingin secepatnya saya gali untuk turut mencari jalan keluar bagi anak-anak pejuang bangsa ini.
Semangat anak-anak ke sekolah perlu diacungi jempol. Dengan jarak yang cukup jauh dan struktur jalan yang menanjak tidak menghalangi mereka untuk ke sekolah. orang tua, pihak sekolah dan pemerintah kota Semarang seharusnya mengapresiasi semangat anak-anak ini. Jangan biarkan niat baik mereka direnggut oleh niat jahat orang-orang tak bertanggung jawab. Dari kejadian ini saya teringat dengan pepatah Jawa yakni “Jer Basuki Mawa Beya” yang berarti setiap keberhasilan memerlukan pengorbanan atau biaya. Bagaimana anak Indonesia dapat memenuhi tujuan pendidikan negara jika pihak-pihak terkait enggan berkorban?


Continue Reading...

Followers

Games

Follow The Author